Kamis, 30 Agustus 2012

Mariam, Wanita Arab Saudi Pertama 
Yang Berani Menampakan Diri Sebagai Seorang Kristen

 
RIYADH (SAUDI) - Sebagai seorang wanita mantan Muslim sekte Wahabbi asal Arab Saudi pertama yang memilih memikul salib Kristus, Maryam membuat pemerintah Arab Saudi dan seluruh muslim di jazirah Arab, kebakaran jenggot. Menurut sumber berita dari jaringan Islam Shia di Iran yang dipublikasikan oleh situs berita Kristen Iran, Mohabat News pada Senin, (05/08/2012), mengabarkan Maryam, menjadi wanita Arab Saudi pertama yang berani menampakkan diri sebagai seorang Kristen, dan meninggalkan Islam, agama wajib warga Arab Saudi, secara terang-terangan. Penampilannya di Stasiun TV satelit Kristen berbahasa Arab, Al-Haqiqa , yang kemudian diunggah ke YouTube pada akhir Juli 2012 lalu merupakan tamparan telak kepada pemerintah Arab Saudi yang telah berusaha menutup-nutupi usaha warganya yang secara nurani memilih meninggalkan agama wajib di negara itu. Dalam video tersebut, wanita yang berusia 28 tahun ini menggunakan hijab guna menyembunyikan identitas diri dari ancaman kebencian dan 'pembalasan dendam' kaum supremasi agama mengungkapkan dirinya berani meninggalkan Islam Wahabbi dan mengikuti Terang Kristus karena moralitas warga di negara yang 100 persen Islam ini penuh kemunafikan dan hal-hal duniawi, sehingga kedamaian dan kasih yang ia dapati selama menjadi muslim hanyalah semu belaka. Menanggapi aksi berani Maryam , pemerintah Saudi pun melakukan penyelidikan mendalam dengan menahan tanpa batas waktu dua kawan prianya yang 'dicurigai' membantu menolong wanita muda ini melarikan diri dari Al Khobar, kota kelahirannya. Selanjutnya pemerintah Saudi bersama para petinggi agama mereka, Mufti Agung menyatakan akan melakukan usaha cepat guna 'menghentikan' penginjilan di Arab Saudi, dengan menggunakan 'tindakan-tindakan seperlunya.' Walau bukan pertama kalinya seorang wanita asal Saudi yang menjadi Kristen, tampilnya Maryam di media massa merupakan pertama kalinya seorang wanita dari negara jazirah Arab menunjukkan iman Kristennya guna meninggalkan Islam. Ini juga merupakan salah satu bukti dari 'fenomena gunung es' berpindahnya 'beberapa' warga Saudi yang berjumlah total 26 juta ini kepada Terang Kristus, mayoritas melakukannya secara rahasia dan tersembunyi, demi menghindari hukuman gantung mati atau dibunuh, seperti yang dianjurkan hukum Sharia.

Dua pria Saudi dan Libanon yang berada di Kota Al Khobar, ibukota Provinsi Timur (Ash-Sharqiyah), Arab Saudi telah ditahan dan menunggu persidangan dari pengadilan setempat. Mereka berdua dituduh telah menjadikan seorang wanita Muslim memeluk agama Kristen. Menurut situs berita Sabq, pengadilan Al Khobar akan memperbaharui tuduhan awal mereka dari hanya kasus pemutadan, ditambah kasus penyeludupan wanita ke luar negeri, seperti dikatakan Biro Penyelidik dan Pelaksana dari Pengadilan Distrik Al Khobar pada 28 Juli 2012. Maryam, wanita, 28 tahun, yang kini berada di sebuah gereja di Libanon merupakan teman dari dari pria Saudi dan Libanon yang ditangkap oleh polisi syariah negeri itu. Sebelum mengungsi ke Libanon, wanita itu bekerja di sebuah perusahaan di Al Khobar, bersama kedua teman dekatnya itu. Ia mengaku jika keputusan dirinya menjadi Kristen adalah kebebasan nuraninya. Sebab, selama menjadi seorang muslim ia tidak mendapatkan kedamaian yang sering diserukan para pemimpinnya, agama lamanya itu memaksakan dan membatasi segala hal yang merupakan pelanggaran terhadap hak-hak pribadinya. Pelarangan mengadakan kontak langsung dengan non-muslim dan doktrin-doktrin supremasi agama selama masa pendidikan menurutnya sangat memuakkan dan menipu. Ia juga menyatakan, aksi kesalehan semu dari para muslim dengan berdoa terlalu sering serta melaksanakan puasa selama Ramadan, walaupun kelakuan dan sikap muslim tersebut kotor dan jahat merupakan salah satu contohnya, “Hal itu merupakan hal yang sia-sia” ujarnya saat diwawancarai dalam sebuah program keagamaan pada sebuah stasiun televisi Lebanon yang diunggah ke YouTube beberapa hari yang lalu. Selama menjadi muslim ia dibesarkan dengan tuduhan-tuduhan kebencian dan rasis terhadap umat Kristen dan Yahudi. Namun semenjak mengenal Kristus, dirinya merasa nyaman dan tentram, dan tuduhan-tuduhan itu menurutnya adalah cara-cara untuk menjauhkan mereka dari kebenaran Kristus. Ia menyadari selama ini negaranya telah berusaha keras menjelekkan Kekristenan yang dianggap sebagai “agama kafir yang menyembah manusia, dengan tiga tuhan dan tuhan yang beranak”, sedangkan kelakuan para muslim disekitarnya tidak menggambarkan apa yang disebut mereka sebagai ‘agama damai’, yang ada hanya meningkatnya kesombongan, kebencian, seksualitas terselubung (poligami, perzinahan dan homoseksual), kesalehan semu, pamer harta dan berbagai hal duniawi lainnya. Ia mengungkapkan ia menjadi Kristen ketika suatu malam ia bermimpi terangkat keatas langit dan mendengarkan suara Tuhan yang mengatakan kepadanya bahwa Yesus adalah anak-Nya. Sejak itu ia mulai mencari-cari tentang Kekristenan serta giat membaca Alkitab melalui internet. Sabq memberitakan, kedubes Arab Saudi di Beirut, Lebanon telah mengadakan kerjasama dengan badan syariat di Libanon guna mencari Maryam, sehingga mereka berharap dapat mengembalikan wanita itu ke Arab Saudi. Penelitian pengadilan dan polisi sharia Al Khobar menunjukkan, peran warga Saudi di negara mereka guna 'menyeludupkan' para wanita ke luar negara 100 persen islam itu sangat besar, termasuk kepada pria Saudi dan Libanon itu.. Kedua pria yang dituduh melakukan pemurtadan itu sebelumnya telah bebas melalui pembayaran denda lewat putusan sidang sebab tidak terbukti mengadakan pemaksaan pemurtadan, namun kini mereka kembali ditahan dengan alasan penyeludupan manusia, sang pria Libanon kemudian dilarang untuk meninggalkan negara itu.


Sumber : 
http://www.kabargereja.tk/2012/08/kebakaran-jenggot-karena-maryam-memikul.html
http://www.kabargereja.tk/2012/07/mohon-doa-pemerintah-arab-saudi-tangkap.html
 
RIYADH (SAUDI) - Sebagai seorang wanita mantan Muslim sekte Wahabbi asal Arab Saudi pertama yang memilih memikul salib Kristus, Maryam membuat pemerintah Arab Saudi dan seluruh muslim di jazirah Arab, kebakaran jenggot.

Lebih lanjut klik: http://www.kabargereja.tk/2012/08/kebakaran-jenggot-karena-maryam-memikul.html
Copyright © 2011 TimPPGI di KabarGereja
RIYADH (SAUDI) - Sebagai seorang wanita mantan Muslim sekte Wahabbi asal Arab Saudi pertama yang memilih memikul salib Kristus, Maryam membuat pemerintah Arab Saudi dan seluruh muslim di jazirah Arab, kebakaran jenggot. Menurut sumber berita dari jaringan Islam Shia di Iran yang dipublikasikan oleh situs berita Kristen Iran, Mohabat News pada Senin, (05/08/2012), mengabarkan Maryam, menjadi wanita Arab Saudi pertama yang berani menampakkan diri sebagai seorang Kristen, dan meninggalkan Islam, agama wajib warga Arab Saudi, secara terang-terangan. Penampilannya di Stasiun TV satelit Kristen berbahasa Arab, Al-Haqiqa, yang kemudian diunggah ke YouTube pada akhir Juli 2012 lalu merupakan tamparan telak kepada pemerintah Arab Saudi yang telah berusaha menutup-nutupi usaha warganya yang secara nurani memilih meninggalkan agama wajib di negara itu. Dalam video tersebut, wanita yang berusia 28 tahun ini menggunakan hijab guna menyembunyikan identitas diri dari ancaman kebencian dan 'pembalasan dendam' kaum supremasi agama mengungkapkan dirinya berani meninggalkan Islam Wahabbi dan mengikuti Terang Kristus karena moralitas warga di negara yang 100 persen Islam ini penuh kemunafikan dan hal-hal duniawi, sehingga kedamaian dan kasih yang ia dapati selama menjadi muslim hanyalah semu belaka. Menanggapi aksi berani Maryam, pemerintah Saudi pun melakukan penyelidikan mendalam dengan menahan tanpa batas waktu dua kawan prianya yang 'dicurigai' membantu menolong wanita muda ini melarikan diri dari Al Khobar, kota kelahirannya. Selanjutnya pemerintah Saudi bersama para petinggi agama mereka, Mufti Agung menyatakan akan melakukan usaha cepat guna 'menghentikan' penginjilan di Arab Saudi, dengan menggunakan 'tindakan-tindakan seperlunya.' Walau bukan pertama kalinya seorang wanita asal Saudi yang menjadi Kristen, tampilnya Maryam di media massa merupakan pertama kalinya seorang wanita dari negara jazirah Arab menunjukkan iman Kristennya guna meninggalkan Islam. Ini juga merupakan salah satu bukti dari 'fenomena gunung es' berpindahnya 'beberapa' warga Saudi yang berjumlah total 26 juta ini kepada Terang Kristus, mayoritas melakukannya secara rahasia dan tersembunyi, demi menghindari hukuman gantung mati atau dibunuh, seperti yang dianjurkan hukum Sharia. (Mohabat/Sabq/TimPPGI)

Lebih lanjut klik: http://www.kabargereja.tk/2012/08/kebakaran-jenggot-karena-maryam-memikul.html
Copyright © 2011 TimPPGI di KabarGereja
RIYADH (SAUDI) - Sebagai seorang wanita mantan Muslim sekte Wahabbi asal Arab Saudi pertama yang memilih memikul salib Kristus, Maryam membuat pemerintah Arab Saudi dan seluruh muslim di jazirah Arab, kebakaran jenggot. Menurut sumber berita dari jaringan Islam Shia di Iran yang dipublikasikan oleh situs berita Kristen Iran, Mohabat News pada Senin, (05/08/2012), mengabarkan Maryam, menjadi wanita Arab Saudi pertama yang berani menampakkan diri sebagai seorang Kristen, dan meninggalkan Islam, agama wajib warga Arab Saudi, secara terang-terangan. Penampilannya di Stasiun TV satelit Kristen berbahasa Arab, Al-Haqiqa, yang kemudian diunggah ke YouTube pada akhir Juli 2012 lalu merupakan tamparan telak kepada pemerintah Arab Saudi yang telah berusaha menutup-nutupi usaha warganya yang secara nurani memilih meninggalkan agama wajib di negara itu. Dalam video tersebut, wanita yang berusia 28 tahun ini menggunakan hijab guna menyembunyikan identitas diri dari ancaman kebencian dan 'pembalasan dendam' kaum supremasi agama mengungkapkan dirinya berani meninggalkan Islam Wahabbi dan mengikuti Terang Kristus karena moralitas warga di negara yang 100 persen Islam ini penuh kemunafikan dan hal-hal duniawi, sehingga kedamaian dan kasih yang ia dapati selama menjadi muslim hanyalah semu belaka. Menanggapi aksi berani Maryam, pemerintah Saudi pun melakukan penyelidikan mendalam dengan menahan tanpa batas waktu dua kawan prianya yang 'dicurigai' membantu menolong wanita muda ini melarikan diri dari Al Khobar, kota kelahirannya. Selanjutnya pemerintah Saudi bersama para petinggi agama mereka, Mufti Agung menyatakan akan melakukan usaha cepat guna 'menghentikan' penginjilan di Arab Saudi, dengan menggunakan 'tindakan-tindakan seperlunya.' Walau bukan pertama kalinya seorang wanita asal Saudi yang menjadi Kristen, tampilnya Maryam di media massa merupakan pertama kalinya seorang wanita dari negara jazirah Arab menunjukkan iman Kristennya guna meninggalkan Islam. Ini juga merupakan salah satu bukti dari 'fenomena gunung es' berpindahnya 'beberapa' warga Saudi yang berjumlah total 26 juta ini kepada Terang Kristus, mayoritas melakukannya secara rahasia dan tersembunyi, demi menghindari hukuman gantung mati atau dibunuh, seperti yang dianjurkan hukum Sharia. (Mohabat/Sabq/TimPPGI)

Lebih lanjut klik: http://www.kabargereja.tk/2012/08/kebakaran-jenggot-karena-maryam-memikul.html
Copyright © 2011 TimPPGI di KabarGereja

RIYADH (SAUDI) - Sebagai seorang wanita mantan Muslim sekte Wahabbi asal Arab Saudi pertama yang memilih memikul salib Kristus, Maryam membuat pemerintah Arab Saudi dan seluruh muslim di jazirah Arab, kebakaran jenggot.

Lebih lanjut klik: http://www.kabargereja.tk/2012/08/kebakaran-jenggot-karena-maryam-memikul.html
Copyright © 2011 TimPPGI di KabarGereja
RIYADH (SAUDI) - Sebagai seorang wanita mantan Muslim sekte Wahabbi asal Arab Saudi pertama yang memilih memikul salib Kristus, Maryam membuat pemerintah Arab Saudi dan seluruh muslim di jazirah Arab, kebakaran jenggot. Menurut sumber berita dari jaringan Islam Shia di Iran yang dipublikasikan oleh situs berita Kristen Iran, Mohabat News pada Senin, (05/08/2012), mengabarkan Maryam, menjadi wanita Arab Saudi pertama yang berani menampakkan diri sebagai seorang Kristen, dan meninggalkan Islam, agama wajib warga Arab Saudi, secara terang-terangan. Penampilannya di Stasiun TV satelit Kristen berbahasa Arab, Al-Haqiqa, yang kemudian diunggah ke YouTube pada akhir Juli 2012 lalu merupakan tamparan telak kepada pemerintah Arab Saudi yang telah berusaha menutup-nutupi usaha warganya yang secara nurani memilih meninggalkan agama wajib di negara itu. Dalam video tersebut, wanita yang berusia 28 tahun ini menggunakan hijab guna menyembunyikan identitas diri dari ancaman kebencian dan 'pembalasan dendam' kaum supremasi agama mengungkapkan dirinya berani meninggalkan Islam Wahabbi dan mengikuti Terang Kristus karena moralitas warga di negara yang 100 persen Islam ini penuh kemunafikan dan hal-hal duniawi, sehingga kedamaian dan kasih yang ia dapati selama menjadi muslim hanyalah semu belaka. Menanggapi aksi berani Maryam, pemerintah Saudi pun melakukan penyelidikan mendalam dengan menahan tanpa batas waktu dua kawan prianya yang 'dicurigai' membantu menolong wanita muda ini melarikan diri dari Al Khobar, kota kelahirannya. Selanjutnya pemerintah Saudi bersama para petinggi agama mereka, Mufti Agung menyatakan akan melakukan usaha cepat guna 'menghentikan' penginjilan di Arab Saudi, dengan menggunakan 'tindakan-tindakan seperlunya.' Walau bukan pertama kalinya seorang wanita asal Saudi yang menjadi Kristen, tampilnya Maryam di media massa merupakan pertama kalinya seorang wanita dari negara jazirah Arab menunjukkan iman Kristennya guna meninggalkan Islam. Ini juga merupakan salah satu bukti dari 'fenomena gunung es' berpindahnya 'beberapa' warga Saudi yang berjumlah total 26 juta ini kepada Terang Kristus, mayoritas melakukannya secara rahasia dan tersembunyi, demi menghindari hukuman gantung mati atau dibunuh, seperti yang dianjurkan hukum Sharia. (Mohabat/Sabq/TimPPGI)

Lebih lanjut klik: http://www.kabargereja.tk/2012/08/kebakaran-jenggot-karena-maryam-memikul.html
Copyright © 2011 TimPPGI di KabarGereja
RIYADH (SAUDI) - Sebagai seorang wanita mantan Muslim sekte Wahabbi asal Arab Saudi pertama yang memilih memikul salib Kristus, Maryam membuat pemerintah Arab Saudi dan seluruh muslim di jazirah Arab, kebakaran jenggot. Menurut sumber berita dari jaringan Islam Shia di Iran yang dipublikasikan oleh situs berita Kristen Iran, Mohabat News pada Senin, (05/08/2012), mengabarkan Maryam, menjadi wanita Arab Saudi pertama yang berani menampakkan diri sebagai seorang Kristen, dan meninggalkan Islam, agama wajib warga Arab Saudi, secara terang-terangan. Penampilannya di Stasiun TV satelit Kristen berbahasa Arab, Al-Haqiqa, yang kemudian diunggah ke YouTube pada akhir Juli 2012 lalu merupakan tamparan telak kepada pemerintah Arab Saudi yang telah berusaha menutup-nutupi usaha warganya yang secara nurani memilih meninggalkan agama wajib di negara itu. Dalam video tersebut, wanita yang berusia 28 tahun ini menggunakan hijab guna menyembunyikan identitas diri dari ancaman kebencian dan 'pembalasan dendam' kaum supremasi agama mengungkapkan dirinya berani meninggalkan Islam Wahabbi dan mengikuti Terang Kristus karena moralitas warga di negara yang 100 persen Islam ini penuh kemunafikan dan hal-hal duniawi, sehingga kedamaian dan kasih yang ia dapati selama menjadi muslim hanyalah semu belaka. Menanggapi aksi berani Maryam, pemerintah Saudi pun melakukan penyelidikan mendalam dengan menahan tanpa batas waktu dua kawan prianya yang 'dicurigai' membantu menolong wanita muda ini melarikan diri dari Al Khobar, kota kelahirannya. Selanjutnya pemerintah Saudi bersama para petinggi agama mereka, Mufti Agung menyatakan akan melakukan usaha cepat guna 'menghentikan' penginjilan di Arab Saudi, dengan menggunakan 'tindakan-tindakan seperlunya.' Walau bukan pertama kalinya seorang wanita asal Saudi yang menjadi Kristen, tampilnya Maryam di media massa merupakan pertama kalinya seorang wanita dari negara jazirah Arab menunjukkan iman Kristennya guna meninggalkan Islam. Ini juga merupakan salah satu bukti dari 'fenomena gunung es' berpindahnya 'beberapa' warga Saudi yang berjumlah total 26 juta ini kepada Terang Kristus, mayoritas melakukannya secara rahasia dan tersembunyi, demi menghindari hukuman gantung mati atau dibunuh, seperti yang dianjurkan hukum Sharia. (Mohabat/Sabq/TimPPGI)

Lebih lanjut klik: http://www.kabargereja.tk/2012/08/kebakaran-jenggot-karena-maryam-memikul.html
Copyright © 2011 TimPPGI di KabarGereja

Kamis, 28 Juni 2012


“Hosti Berdarah” di Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji, Yogyakarta


foto ilustrasi tentang peristiwa “hosti berdarah” yang pernah terjadi di sebuah paroki di Keuskupan St. Paul-Minnesota, AS.






SEBUAH berita mengejutkan namun meneguhkan iman muncul di beberapa milis katolik mengenai terjadinya “mukjizat” berupa hosti berdarah. Kejadiannya di Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius di Jl. Panembahan Senopati 22, Yogyakarta yang dikenal oleh umat katolik setempat dengan nama Gereja Kidul Loji.

Peristiwa ‘aneh’ ini terjadi saat berlangsung misa/ekaristi mingguan pada hari Minggu, tanggal 15 April 2012. Saat itu, yang memimpin perayaan ekaristi adalah Romo V. Suparman Pr, salah satu pastur di Gereja Kidul Loji. “Sampai Liturgi Ekaristi dan Komuni, semuanya berjalan lancar-lancar saja,” kata Romo Noegroho Agoeng Pr, Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Semarang.
 

Hosti terjatuh dan hilang
Menurut Romo Agoeng mengutip cerita dan syering dari Romo Saryanto Pr –Romo Vicaris Episcopalis Wilayah DIY—kejadian ‘aneh’ yang meneguhkan iman terjadi saat berlangsung penerimaan komuni. Seorang prodiakon tengah menerimakan komuni pada salah seorang umat kategori muda/remaja. “Saat mau disantap, tiba-tiba hosti tersebut jatuh,” jelas Romo Noegroho Agoeng.

Dicari-cari juga tidak ketemu. “Anak itu kemudian diberi hosti lagi dan kemudian ‘sukses’ ditelan. Komuni berlanjut seperti biasa,” tambah Romo Agoeng.

Mencari hosti
Usai misa berakhir, prodiakon tersebut dengan perasaan gentar matur (datang melaporkan) peristiwa hilangnya hosti tersebut saat berlangsung komuni. Kemudian, prodiakon itu berinisiatif mencari hosti yang hilang dan eureuka!

Hosti yang jatuh ‘hilang” itu akhirnya ditemukan di tempat tak jauh dari lokasi pembagian komuni tadi. Hanya di situ ditemukan sebuah ‘gumpalan darah’ sebesar hosti.

“Gumpalan darah itu kemudian dilap dengan purificatorium (kain putih yang biasa dipakai romo untuk membersihkan piala) dan kemudian purificatorium itu dibersihkan dengan air suci,” tulis Romo Agoeng.

Prodiakon itu lalu berinisiatif mengajak anak remaja dan ibunya serta beberapa umat lainnya untuk berdoa, mohon ampun atas ‘kelalaian’ tersebut.

Purificatorium itu kemudian dimasukan ke dalam piscis (kotak kecil untuk menyimpan hosti) dan piscis itu diletakkan di kapel pasturan.

Pukul 24.00 bersama Romo Vikep Saryanto Pr, Romo V. Suparman Pr melihat kembali piscis berisi ‘hosti berdarah’ tersebut. “Yang bekas darah dibersihkan dan masih terasa basah; sementara bercak darahnya sudah mulai pudar. Namun di bagian yang sudah kering ada bekas darah warna merah kecoklatan. Baunya wangi,” tulis Romo Noegroho Agoeng.

Purificatorium itu kembali disimpan kembali di kapel pasturan.




Peristiwa “Hosti Berdarah” dalam Percakapan Dua Pastur

ATAS budi baik Romo Aloysius Budi Purnomo Pr –Ketua Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang—Redaksi Sesawi.Net bisa mendapatkan semacam transkrip percakapan antara dua orang romo bersahabat. Mereka itu adalah Romo Aloysius Budi Purnomo Pr sendiri sebagai penanya sekaligus penanggap dan Romo V. Suparman sebagai tertanggap dan “pelaku” sekaligus “saksi” atas peristiwa “Hosti Berdarah”.

Kedua romo diosesan ini syering iman untuk menyikapi peristiwa “Hosti Berdarah” yang telah terjadi di Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji, Yogyakarta, Minggu 15 April 2012 lalu.

Aslinya, kata Romo Budi Purnomo, percakapan antara dua sahabat romo ini terjadi hari Senin malam tanggal 16 April. Mereka berdua berdialog dengan ‘bahasa ibu” yakni menggunakan bahasa Jawa. Redaksi Sesawi.Net menyuguhkan kepada sidang para pembaca dalam bahasa Indonesia agar bisa dimengerti oleh khayalak yang lebih luas.

Romo A. Budi Purnomo Pr (Budi): Romo Parman, saya turut terharu dan bersyukur membaca peristiwa yang terjadi di Kidul Loji. Romo benar-benar ‘terpilih’ oleh Tuhan telah boleh mengalami sebuah peristiwa iman yang teramat luhur dan ilahi ini. Marilah kita memohon berkat Tuhan dan makin bergiat mendaraskan sembahyang untuk mendoakan kita semua yang masih berdosa dan penuh kelemahan ini. Kami haturkan doa-doa kami ini melalui Romo di hadapan Tuhan Yesus Kristus yang kini bertahta di Kapel Pasturan. Salam.

Romo V. Suparman Pr (Parman): Romo Budi, saya mohon doa restunya dan dukungannya melalui doa-doa. Berkah Dalem (Berkat Tuhan).

Budi: Mari kita semua saling mendoakan satu sama lain. Terima kasih Romo atas syeringnya. Saya merasa bulu kuduk saya merinding saat mencecap kalimat-kalimat penjelasan peristiwa itu secara kronologis. Bagus sekali transkrip literalnya atas syering Romo Saryanto yang kemudian dibahasakan oleh Romo Noegroho Agoeng Pr.

Parman: Terima kasih Romo. Semoga melalui peristiwa ini Tuhan sendiri berkenan menyampaikan “Sabda-Nya” kepada kita semua. Berkah Dalem.

Budi: Setuju, Romo. Menurut saya, peristiwa itu menjadi pertanda jelas bahwa Romo sebaiknya segera merintis kegiatan adorasi ekaristi abadi di Gereja Kidul Loji. Usul saya, sebaiknya gagasan bagus ini segera saja direalisasikan secepatnya ya Romo.

Parman: He…he…he…Sebenarnya, kami sudah melakukan adorasi ekaristi abadi setiap Jumat pertama dan setiap Sabtu malam. Hanya saja, memang kegiatan itu belum bisa disebut ‘abadi’.

Budi: Justru karena itu, ide tersebut mesti segera dimulai dan diwujudnyatakan. Melalui peristiwa iman itu, justru Gereja Kidul Loji bisa membangun peradaban iman yakni melakukan adorasi ekaristi abadi. Prinsipnya sederhana saja. Setidaknya harus punya 168 orang adorator tetap yang siap memulai kegiatan beriman ini. Kalau Romo berkenan, saya dengan senang hati akan syering mengenai kegiatan itu.

Dialog antar dua sahabat imam itu kemudian berlanjut lagi pada hari Selasa (17/4) pagi.

Budi: Selamat pagi, Romo. Bagaimana kabar baiknya hari ini? Apakah sudah kembali “sowan” datang menghadap “Hosti Berdarah” yang tersimpan dalam piscis di Kapel Pasturan? Bagaimana cerita kelanjutannya? Terima kasih dan Berkah Dalem.

Parman: Berkah Dalem, Romo. Romo Vikep, Romo Noto dan saya sendiri sudah ‘sowan’ datang menghadap menghaturkan sembah di hadapan “Hosti Berdarah” itu. Terima kasih.

Budi: Apakah ada fenomen perubahan? Misalnya masih menyebarkan bau harum mewangi?

Parman: Romo, bercak-bercah darah yang kemarin berwarna merah kecoklatan sekarang sudah berubah menjadi terang. Terima kasih.

Budi: Masih menyebarkan bau harum mewangi apa tidak?

Parman: Masih, Romo.

Budi: Itu benar-benar berita iman yang bagus sekali. Kalau Romo berkenan, silakan Romo menulis peristiwa itu agar bisa didokumentasikan karena Romo sendiri sebagai ‘pelaku’ dan ‘saksi’ peristiwa tersebut. Kami siap memublikasikan itu di majalah kami Inspirasi.

Parman: Nanti coba saya usahakan ya Romo. Semoga di kemudian hari, saya bisa melakukan dokumentasi peristiwa itu dalam bentuk sebuah tulisan. Mohon diberi bimbingan dan bombongan ya.

Budi: Silakan Romo, dicoba saja untuk memulainya dan kami akan sabar menunggu kisah iman itu. Saya sendiri sudah mempuplikasikan kisah itu seusai isi syering Romo Saryanto yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk tertulis oleh Romo Noegroho Agoeng Pr. Kalau Romo sendiri yang mengalami dan menulis kisah itu sendiri, tentu hasilnya lebih nges dan otentik. Hormat bakti kami kepada Tuhan Yesus Kristus dan mohon sampaikan permohonan kami ini ketika Romo berkesempatan sowan kembali ke Kapel Pasturan. Terima kasih ya Romo dan Berkah Dalem.

Parman: Terima kasih, Romo dan Berkah Dalem.
 
Uskup Agung Semarang: “Hosti Berdarah” Ajarkan Pentingnya Sikap Hormat pada Ekaristi Sakramen Mahakudus
MENCERMATI luasnya sirkulasi berita tentang peristiwa “hosti berdarah” di Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji, Yogyakarta, Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta Pr menegaskan, peristiwa itu semakin menguatkan perlunya umat katolik menaruh hormat kepada ekaristi dan hosti.

“Saya pribadi belum sempat meninjau lokasi Gereja Kidul Loji,” tulis Mgr. Pujasumarta kepada Redaksi Sesawi.Net hari Selasa (17/4) pagi.

Namun, kata Monsinyur lebih lanjut, pihaknya juga telah mendengar tentang peristiwa itu itu dari mulut Vikep DIY Romo Saryanto Pr yang kemudian “dibahasakan” secara literal oleh Penanggungjawab Komisi Komsos KAS yakni Romo Noegroho Agoeng Pr.

Detil “cerita” kronologis peristiwa “Hosti Berdarah” sebagaimana dikisahkan oleh Romo Saryanto Pr dan kemudian dibahasakan secara literal oleh Romo Noegroho Agoeng Pr itu juga telah dikirim ke Redaksi Sesawi.Net, Senin (16/4) petang kemarin.

Yang penting, tandas Mgr. Puja, kita sekalian harus menemukan hikmah atas peristiwa itu. “Dan bagi saya, itu tak lain agar kita semakin hormat pada Ekaristi Sakramen Mahakudus,” kata Uskup Agung Semarang ini.
 

 
Sumber : SESAWI.net


 

Rabu, 22 Februari 2012

Kesaksian:
Mewartakan Kristus Yang Tersalib
(Dari Islam ke Protestan dan akhirnya ke Katolik)


Pengantar: Artikel berikut ini adalah terjemahan bebas dari kesaksian seorang Katolik eks-Islam dan eks-Protestan bernama Daniel Ali dari pamflet Pope John Paul II Society of Evangelist nomorI352. Daniel Ali bersama dengan seorang Katolik lainnya bernama Robert Spencer menulis sebuah buku berjudul “Inside Islam: A Guide for Catholics” yang diterbitkan di Amerika Serikat. Buku ini diberi kata pengantar oleh Pater Mitch Pacwa, SJ, seorang imam terkenal di Amerika Serikat. Selamat membaca kisah dan kesaksian hidup Daniel Ali!

Mewartakan Kristus Yang Tersalib

Oleh Daniel Ali

Pada tahun 1959, saya lahir di dalam sebuah keluarga Islam, di Kurdistan, Irak Utara. Saya adalah anak kelima dari sebuah keluarga besar. Kebudayaan Arab dan Agama Islam adalah pengaruh-pengaruh yang dominan di dalam bangsa Kurdi. Saya memulai pelajaran resmi mengenai Arabia pada usia 12 tahun. Seiring waktu pada saat saya berusia 16 tahun, saya menulis puisi dalam Bahasa Arab, beberapa di antaranya diterbitkan di awal 1976.


Aktivitas politik saya dalam Oposisi Kurdi melawan Saddam Hussein mengisi sebagian besar kehidupan dewasa saya di Irak. Saddam Hussein, dalam salah satu dari banyak serangannya kepada Bangsa Kurdi, memindahkan dengan paksa populasi besar Kurdi dari kampung halaman mereka, menyingkirkan mereka ke bagian lain dari negeri [Irak], untuk mengambil alih dan mengamankan kontrolnya atas lapangan-lapangan minyak orang Kurdi. Hal ini mulai pada tahun 1975, usaha aktif saya untuk membebaskan bangsa Kurdi dan untuk menyatukan mereka secara politik. Karena hal ini, saya dipenjara dan disiksa beberapa kali di tangan Saddam Hussein. Penyiksaan ini saya pandang sebagai “keberuntungan” ketika tentara Saddam menginvasi Kurdistan dan menghilangkan banyak nyawa pejuang Kurdi.  Beberapa kali Allah menyelamatkan saya dari kematian; oleh keputusan hakim, oleh hujan bom kimia di atas kaum Kurdi, oleh hampir tenggelam, dan oleh luka penyiksaan serius. Bagaimanapun juga, saya kala itu tidak mengakui bahwa itu semua adalah campur tangan Allah. Saya melanjutkan perjuangan pembebasan saya, seringkali menghabiskan beberapa waktu di pegunungan, menderita kedinginan dan kelaparan, ketakutan dan kaum saya diabaikan oleh negara-negara di dunia. Pada tahun 1988, saya melihat banyak teman-teman saya tercinta meninggal dalam horornya serangan kimia di atas kota Halabja. Saya mulai memahami kelemahan manusia dalam dosanya dan keputusasaan dalam hidup tanpa campur tangan dan perlindungan Allah.

Sejak tahap awal kehidupan saya, saya tertarik dengan cara hidup orang Kristen terutama karena kenangan pertama saya akan tetangga Kristen kami. Banyak dari mereka adalah contoh yang indah akan adanya kasih Kristus. Mengingat mereka membuat saya menyadari bahwa Allah memanggil saya kepada-Nya, bahkan sejak masa kecil saya. Suatu hari, seorang Kristen Armenia berkesempatan untuk memberikan saya sebuah buku mengenai martir-martir Gereja Perdana. Saya membacanya dan terinspirasi untuk hidup dan meninggal bagi kebebasan kaum saya, Kurdi. Saya punya keinginan besar untuk membaca selama masa mudaku, dan saya banyak membaca buku teologi, filsafat dan sejarah. Saya menjadi fasih berbahasa Inggris, membaca karya Voltaire, Hegel, Dickens, dan beberapa nama lainnya. Akhirnya saya melanjutkan mempelajari orang-orang besar dari iman Kristen dengan rajin, St Thomas Aquinas di antaranya. Dengan penyelidikan yang konsisten dan perbandingan teologi Islam dan Kristen, saya mengakui kebenaran agama Kristen pada awal 1982. Tapi hal ini masih merupakan sebuah pengakuan intelektual saja. Saya mengakui Yesus adalah Mesias, tetapi saya tidak mengenal Dia secara pribadi.

Setelah Perang Teluk Pertama, saya menikahi Sara, seorang Kristen Amerika. Saya memberitahu dia bahwa saya percaya Yesus adalah Mesias, tetapi mengingatkan dia supaya dia tidak mencoba untuk mengonversi (mempertobatkan) saya ke dalam agamanya. Saya melakukan hal ini meskipun kenyataan bahwa saya mengakui percaya bahwa Yesus adalah Allah. Muslim memahami istilah-istilah ini sungguh berbeda dari Kristen. Dia (Sara, red) tahu bahwa hal ini adalah sebuah kesepakatan besar, dan selama dua tahun berikutnya, kami menahan semua badai dari pernikahan antar-agama dan antar-budaya. Meskipun ada banyak perdebatan dan ketidaksepakatan pahit, saya perlahan-lahan melihat bahwa Sara terus-menerus mengampuni saya, mencintai saya dan menghendaki saya lebih dari dirinya sendiri. Tanpa sepengetahuan dirinya, ia menjadi kesaksian hidup nyata dari pribadi Kristus dalam perjuangan pernikahan kami. Akhirnya, saya mulai bangun di malam hari untuk diam-diam membaca Perjanjian Baru. Saya datang semakin dekat kepada Tuhan. Saya diam-diam bertemu dengan-Nya dalam firman-Nya yang kudus, Kitab Suci.

Kami tiba di Amerika Serikat, awal tahun 1993, dan melanjutkan sebuah bisnis kecil Sara yang beroperasi ppada waktu itu. Saya telah mempelajari teologi Kristen dan Islam selama sebagian besar dari hidup saya. Hal ini membawa saya dalam sebuah perjalanan yang membimbing saya akhirnya kepada Yesus Kristus, yang saya akui sebagai Mesias secara intelektual. Tetapi, bahkan pada titik ini dalam hidup saya, saya tidak membuat komitmen final akan pembaptisan. Suatu hari, saya didekati oleh dokter gigi saya, Dokter Blevins, yang berdoa bersama saya, dan akhirnya membawa saya kepada iman akan Kristus, selama musim panas 1995. Saya dibaptis ke dalam Tubuh Kristus pada tanggal 17 September 1995. Semuanya berubah. Saya mulai secara langsung memberitahu teman-teman Muslim saya mengapa saya berpindah, dan saya membuat efforts besar untuk menginjili mereka. Saya mempelajari Kitab Suci sampai saya dapat mengutip bab dan ayat, dan mulai bersaksi kepada setiap orang yang dapat mendengarkan. Banyak yang mendengarkan dan pindah dengan penuh antusiasme akan Yesus dan Kitab Suci. Saya tahu bahwa saya sekarang telah melakukan apa yang dibutuhkan oleh seluruh bangsa saya, dan tentu untuk semua kaum Muslim dan dunia yang belum terjangkau. saya memiliki Kitab Suci dan tidak ada yang dapat menahan saya dari membagikannya.

Selama tahun-tahun berikutnya, saya membaca selama berjam-jam setiap hari, bersaksi kepada ratusan pelanggan saat bekerja dan menemukan bahwa saya memiliki karunia untuk membawa orang-orang kepada iman akan Kristus, atau untuk membawa mereka sekali lagi aktif dalam iman mereka. Dalam bisnis kecil saya, di lingkungan kami, di antara para pendatang dan sahabat-sahabat, saya tidak menemukan apapun yang layak untuk dibicarakan lagi selain Yesus Kristus. Sekarang hal ini sudah 8 tahun; selama masa itu, Tuhan telah menggunakan kesaksian saya untuk memenangkan banyak orang kepada Diri-Nya sendiri, beberapa dari mereka adalah Muslim, beberapa dari mereka adalah murtadin, dan beberapa dari mereka adalah atheis. “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus." (Mrk 8:38)

Segera sesudah pembaptisan saya, Sara dan saya memulai sebuah studi Kitab Suci rumahan bagi siapapun, dari berbagai denominasi yang ingin datang. Kepada Studi Kitab Suci ini, datanglah seorang anak tetangga berusia 9 tahun, Joe Sobran, yang membaca pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban dari Katekismus Baltimore (salah satu Katekismus Gereja Katolik lokal tertua yang dikeluarkan Konferensi Para Uskup AS) miliknya. Sara dan saya terkejut akan pertanyaan-pertanyaan unik dan hal itu dijawab dengan jawaban sederhana dan mendalam di belakang setiap bab. Si Joe kecil tidak menyerah, dan bertanya mengapa kami tidak menjadi Katolik. Dia menanam benih setiap kali ia berbicara kepada kami mengenai iman.

Suatu malam, Sara dan saya menonton televisi dan terjadilah di EWTN tepat pada momen Konsekrasi di mana imam mengangkat Hosti. Kami terkagum-kagum oleh penghormatan yang sederhana dan indah ini bagi Yesus. Lalu imam mengangkat Piala dalam keindahan hiasannya. Vestmentum (jubah) imam memiliki sebuah keindahan yang menunjukkan bahwa hanya hal terbaik yang kita tawarkan yang layak untuk Allah. Sara dan saya mulai memahami keindahan dalam Gereja Katolik hadir di sana karena Gereja Katolik-lah Rumah Allah yang sejati.

Dalam tahun 1996, Sara dan saya diperkenalkan kepada teolog Katolik, Pater (Romo, red) William G. Most, yang mengajarkan kami teologi Katolik. Dia dengan murah hati memberikan setiap hari Minggu selama satu setengah tahun untuk membawa kedua fundamentalis ini bergabung dengan Gereja Katolik. Kami diterima dalam Gereja Katolik, tanggal 13 Juli 1998 pada sebuah Misa khusus.

Sebelum Pater Most meninggal, pada Januari 1999, dia dan saya berdiskusi mengenai pembentukan sebuah forum di mana Kristen dan Muslim dapat berdialog. Pater Most adalah dorongan besar dalam pendirian Forum Kristen-Islam, juga dalam setiap cara hidupnya selama bulan-bulan terakhirnya. Adalah suatu berkat kekal yang dimiliki saat berada di pangkuannya untuk belajar iman Katolik.

Setelah kematian Pater Most, saya membawa misi untuk menjangkau kaum Muslim dalam hidup saya. Awal tahun 2001, setelah pulang dari perziarahan ke Roma, bersama dengan beberapa teman, saya memulai berkarya dalam kerangka hukum untuk berdirinya Forum Kristen-Islam non-profit. Pada tanggal 13 Agustus 2001, Forum Kristen-Islam secara resmi berdiri.

Pertemuan Pengenalan paling pertama dari organisasi baru kami akan diselenggarakan pada Gereja Katolik Roh Kudus di Annandale, Virginia (AS), pada tanggal 11 September 2001. Pertemuan ini dibatalkan karena serangan teroris (Penyerangan terhadap WTC dan Pentagon) melawan negara kami. Kesimpulan yang Sara dan saya ambil dari peristiwa mengerikan ini adalah Allah sedang memberitahu semua orang inilah saatnya untuk memberi perhatian kepada Muslim. Baik mereka sedang secara agresif “menginjili” Barat melalui berbagai bentuk jihad mereka atau kita sedang menginjili mereka dengan Kabar Baik dari Yesus Kristus. Saya telah dipanggil untuk berbicara beberapa kali selama beberapa bulan terakhir sejak tragedi tersebut. Pembicaraan-pembicaraan ini membahas mengenai realita-realita Islam, strategi-strategi mereka mengonversi kita ke Islam, dan apa yang dapat  kita lakukan untuk didengar dan diterima oleh mereka dengan sukses. Umat Kristen Protestan tergantung pada Kitab Suci untuk menginjili Muslim. Strategi ini secara luas tidaklah berhasil karena Muslim menganggap Kitab Suci sudah dikorup dan dipalsukan oleh Kristen dan Yahudi. Kami sedang mengembangkan sebuah metode untuk mendekati Muslim dengan hanya menggunakan sumber-sumber mereka, Al-Quran, Tradisi-tradisi Muhammad, dll. Semua dari kita di Barat, harus belajar sekarang, dan mempelajari untuk terlibat dalam sebuah agama dan dalam sebuah kebudayaan yang sepenuhnya asing terhadap kebudayaan Yudeo-Kristen. Semoga Allah membimbing dan menguatkan kita untuk tugas ini melalui daya Roh Kudus dan rahmat dari Putera-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus.

Menghasilkan satu orang yang pindah ke Katolik (one member gets one member)– tentunya ini bukanlah cara untuk membuat Gereja tumbuh. Kita perlu menyusun program-program paroki di mana umat-umat kita  dibantu untuk melaksanakan peran mereka masing-masing. Dalam hal ini, Imam harus mengambil inisiatif. Kita perlu secara khusus membantu umat kita mengatasi sifat ragu-ragu dan keengganan mereka dalam berbicara mengenai Katolisisme. Kelas-kelas apologetika akan menanamkan kepercayaan diri sehingga ketika seorang non-Katolik memunculkan sebuah keberatan terhadap Gereja, setiap orang Katolik memiliki pengetahuan-pengetahuan penting untuk mengatasi kesalahpahaman-kesalahpahaman yang ada.

Lebih jauh, ada informasi yang cukup untuk dipublikasikan kepada mereka yang tertarik dalam evangelisasi di level paroki, komunitas, atau keuskupan. Imam sebagai wakil hierarki dapat menyediakan pelatihan terutama dengan membentuk kelompok-kelompok kecil yang berbicara mengenai masalah, menetapkan tujuan dan sasaran, dan menetapkan tugas-tugas. Mereka tidak harus memiliki kemampuan spesial. Forum-forum kelompok harus diatur sedemikian rupa dilengkapi dengan pengajar-pengajar berkualitas yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta forum. Program RCIA (Roman Catholic Initiation for Adult atau lebih dikenal di Indonesia sebagai Program Katekumen Dewasa) terutama harus berfokus pada pengajaran Gereja dan dasar-dasar dari keyakinan tersebut.

Meskipun program pelatihan awam terlihat sulit untuk disesuaikan dengan jadwal imam yang padat, imam akan merasa hal ini merupakan suatu pengorbanan yang sungguh layak . Imam akan menemukan partner yang ia butuhkan untuk melakukan karya dan pada saat yang sama menolong umat paroki untuk tumbuh. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa dimana umat Katolik terlibat dalam usaha membawa orang lain kepada Kristus, mereka sendiri ditarik lebih dekat kepada Kristus. Misa, doa, dan sakramen-sakramen – semua ini memiliki lebih banyak makna bagi mereka ketika mereka sadar menjadi rekan kerja Kristus.
Kaum awam memiliki peran spesial yang tidak dapat dilakukan oleh kaum tertahbis. Adalah tugas para orang tua, sebagai contoh, untuk mengajarkan anak-anak mereka mengenai Allah dan melatih mereka dalam moralitas Kristen; hal ini tidak dapat diserahkan kepada sekolah atau entitas lainnya. Adalah tugas awam Katolik untuk mewujudkan Kristus kepada keluarga mereka, teman-teman, tetangga, rekan kerja dan singkatnya, kepada setiap orang yang mereka kenal. Mereka (orang yang kita kenal tersebut) memiliki kewajiban dan hak untuk sebuah partisipasi yang bertanggungjawab dengan tujuan untuk berkembang sepenuhnya sebagai seorang Kristen. Pelajaran Agama saja tidak akan mewujudkannya. Hanya partisipasi bertanggungjawab membuat orang Katolik menjadi dewasa dalam iman dan spiritual dan kurangnya partisipasi yang bertanggungjawab ini membuat banyak umat Katolik sekarang ini belum dewasa secara iman dan spiritual. Hal ini menjelaskan ketidakmampuan dari begitu banyak umat Katolik untuk bertahan menghadapi pengaruh-pengaruh iblis di sekitar mereka.
Panggilan khusus kaum tertahbis adalah karya pastoral; kaum awam sederhananya penolong imam dalam area ini. Panggilan khusus kaum awam dalam karya Gereja adalah karya apostolik; hal ini mereka miliki dari Allah karena mereka adalah awam, masing-masing seturut kemampuan mereka. Mereka juga adalah (k)ristus, diutus untuk mengenalkan Kristus di seluruh dunia. Mereka harus membawa Kristus ke mana pun mereka pergi dan siap untuk mengenalkan Kristus kepada semua yang mereka temui.
Kita seharusnya tidak mengharapkan seseorang untuk melakukan karya sebagai imam tanpa pembinaan-pembinaan penting. Demikian juga, kita tidak dapat mengharapkan seseorang untuk melakukan karya-karya seorang penginjil (evangelis) tanpa adanya pembinaan yang layak.

Diterjemahkan oleh Indonesian Papist dari Pamflet Serikat Pewarta Injil Paus Yohanes Paulus II nomor 352.
Sumber : http://indonesian-papist.blogspot.com/2012/02/kesaksian-mewartakan-kristus-yang.html